Hari Kebangkitan Nasional: Akankah? Dimanakah?

1908, merupakan awal kebangkitan Negara Kepulauan  Nusantara dimana tepat pada tanggal 20 Mei, 104 tahun yang lalu Bung Tomo, Bung Karno, Ki Hajar Dewantara beserta generasi muda lainnya mendirikan sebuah organisasi kepemudaan berwawasan Nusantara bernama Boedi Utomo. Diawali oleh bedirinya Sarikat Dagang Islam pada tahun 1905 yang bertujuan untuk mendominasi kekuatan perdagangan rakyat Indonesia yang saat itu diakui Belanda dengan nama Hindia Belanda. Perjuangan diawal abad 20 tersebut telah membuat beberapa ksatria muda saat itu yakni Ki Hajar Dewantara dengan nama aslinya Raden Mas Suwardi Suryaningrat di ”buang” ke Bangka dan kemudian diasingkan ke Negeri Belanda karena menentang perayaan 100 tahun kemerdekaan Hindia Belanda di Kepulauan Nusantara. Namun, dalam pengasingan tersebut justru dimanfaatkan oleh Ki Hajar Dewantara untuk menyerap ilmu pengetahuan di Negeri Kincir Angin yang nantinya sangat berguna dalam melanjutkan kebangkitan nasional selanjutnya.

Kebangkitan Nasional 1908, secara langsung merupakan efek dari kebodohan Belanda dan semakin pandainya rakyat Indonesia pada saat itu dengan adanya politik etis, yakni sebuah system politik balas budi pemerintah Belanda atas kritik dunia yang mengecam keras pelaksanaan system “tanam paksa”. September 1901, pemerintah Belanda dalam kepemimpinan Ratu Wilhelmina membuat sebuah kebijakkan yang sangat mendukung perjuangan Bangsa Indonesia, bahwa pemerintah Belanda merasa punya hutang budi (een eerschuld) terhadap bangsa pribumi di Hindia Belanda. Ratu Wilhelmina menuangkan panggilan moral tadi ke dalam kebijakan politik etis, yang terangkum dalam program Trias Van Deventer, yakni:

  1. Irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan untuk keperluan pertanian.
  2. Emigrasi yakni mengajak penduduk untuk bertransmigrasi.
  3. Edukasi yakni memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan.

Untuk poin nomor dua diatas, sesungguhnya sangat merugikan rakyat, dimana apa yang diprogramkan untuk pemertaan penduduk ternyata disalahgunakan sebagai system kerja rodi (kerja paksa). Akan tetapi program edukasi ternyata sangat kontradiksi dengan system kerja paksa tersebut, karena Menteri Pendidikan 1900-1905 Mr. J.H. Abendanon memberikan kesempatan belajar yang cukup merata kepada seluruh kalangan. Bukan hanya kaum priyayi saja yang pandai, namun hampir sebagian besar rakyat pribumi dapat kesempatan merasakan pendidikan yang cukup membuat rakyat Indonesia pada saat itu menjadi bangkit nasionalismenya.

Pelaksanaan politik etis sangat banyak mendapatkan kritik. Contohnya, dari kalangan Indo (blesteran), yang secara sosial adalah warga kelas dua namun secara hukum termasuk orang Eropa dan mereka merasa ditinggalkan. Mereka merasa tidak senang dan kurang puas karena pembangunan system pendidikan hanya untuk kalangan pribumi. Akibatnya, orang-orang blesteran tidak dapat masuk dalam system pendidikan tersebut, sehingga satu-satunya pilihan bagi mereka untuk dapat menerima pendidikan haruslah ke luar negari dengan biaya yang mahal.

Dengan adanya konflik internal yang diakibatkan dari politik etis tersebut maka oleh generasi muda Indonesia saat itu di ambil sebagai sebuah keuntungan untuk mengawali sebuah kebangkitan Nasional menuju Kemerdekaan Indonesia sebagai penduduk asli yang berdaulat di tanah kelahirannya.

1928, bulan Oktober pada hari ke dua puluh delapan, kembali tonggak kebangkitan Nasional dikumandangkan dan untuk pertama kalinya nama Indonesia dikumandangkan menuju kedaulatan lepas dari belenggu penjajahan eropa yang serakah. Muhamad Yamin, sang perumus Sumpah Pemuda dan kemudian disetujui oleh kongres dengan beberapa poin, antara lain:

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Seratus empat puluh tahun dari masa kebangkitan tersebut telah bangsa ini lewati. Akankah bangsa Indonesia tetap dapat mempertahankan rasa dan semangat kebangkitan nasional tersebut dengan tetap aksi pada kejujuran, amanah, bermartabat dan harga diri?

Hari Minggu, 20 Mei 2012,

  1. apakah akan banyak generasi muda yang menuliskan kebanggaannya terhadap kebangkitan nasional di dinding muka buku (facebook)?
  2. akankah seluruh media cetak, radio dan televisi rela menggantikan acara dahsyat, inbox, sinetron dan politisasi untuk sejenak dengan acara yang memperingati hari kebangkitan nasional tersebut?
  3. apakah masih ada sekolah-sekolah yang merayakan hari berbahagia tersebut selain hanya upacara “asal lewat” saja, karena semasa saya SMU masih ingat dalam benak perayaan 20 Mei sama semaraknya dengan perayaan 17 agustus?
  4. Kemudian, apakah mungkin para rakyat Indonesia dapat men-STOP kepentingan pribadi serta golongan untuk kembali bersatu bersama-sama membangun bangsa “bukan hanya LipSing”?
  5. Terakhir, Kapankah Korupsi dapat dihilangkan?

Saya,

Seveneleven

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s